Untuk teman yang aku kagumi, Ellena Fedora. Yang sifatnya membara seperti Katniss Everdeen.
Katniss
Nafasku tersedak-sedak sambil memegangi perutku yang amat besar. Peeta mendorongku dengan kursi roda sambil berlari-lari menuju ruangan melahirkan. 9 bulan mengandung merupakan hal yang sangat sulit.
Aku sering sekali muntah-muntah, tidak kuat berjalan, rusukku terasa pegal dan tak kunjung kembali lagi rasanya, mimpi burukku setelah The Hunger Games tetaplah berlanjut seperti tertanam di otakku. Mimpi-mimpi yang dibuat Capitol untuk menghancurkanku. Untungnya, Capitol sudah lenyap. Tenggelam di seluruh Panem. Pada akhirnya kami semua dapat memiliki perasaan aman yang penuh. Tidak lagi merasakan perasaan takut setengah mati di hari pemilihan ataupun menjadi orang tua yang selalu cemas membiarkan anaknya berdiri di hari pemilihan.
Aku sering sekali kejang-kejang dan berteriak-teriak akibat mimpi buruk dari Capitol yang busuk itu dan membiarkan Peeta selalu terjaga dan kekurangan tidur. Dia selalu memastikan bahwa aku aman. Lengannya dan tubuhnya didekatku merupakan obat pengusir mimpi burukku sejak kita selalu bersama, sejak aku mengetahui bahwa aku jatuh cinta kepadanya. Tapi aku memang aman. Memiliki Peeta selamanya. Dia milikku dan aku miliknya. Kembali ke kenyataan bahwa bayi kami sudah tidak sabar ingin keluar.
Tiba-tiba aku kejang-kejang dan aku merasakan bayi kami sedang meronta-ronta minta keluar. Rasa sakitnya bukan main. Seribu kali lebih sakit dari pada sakit perut biasa. Bayiku dan Peeta. Bayi yang aku kandung dengan berbagai macam pengorbanan dan kasih sayang dan kami merawatnya dengan kasih sayang yang tak terbatas. Akupun berteriak pada Peeta dengan keringat di sekujur tubuhku. "PEETA!!!! ARGGHHHHH". Peeta makin pucat dan tertampak kerutan-kerutan kecemasan di wajahnya. "SEBENTAR LAGI SAMPAI KATNISS! TAHAN YA SAYANG!" kata Peeta dengan suara yang diliputi ketakutan. Tangannya langsung meremas tubuhku dan membiarkan suster yang mendorong kursi rodaku. Aku langsung merasa lebih tenang dan damai. Benarkan kataku, Peeta adalah obat penyembuh bagiku.
Setelah sampai diruangan, dengan cepat aku digendong Peeta, suster dan dokter menuju tempat tidur. Prim dan ibuku ada disini bahkan Haymitch dan Effie pun hadir. Hanya Gale yang tidak datang. Gale tidak menemuiku lagi semenjak aku menikah dengan Peeta. Bagiku itu tidak adil. Gale tetaplah sahabatku.
Inilah saatnya. Saat dimana aku akan melahirkan. Aku ketakutan setengah mati. Inilah rasa yang selalu mengingatkanku sejak dahulu untuk tidak memiliki anak, tapi ini semua impian Peeta sejak dia berumur 5 tahun.
Aku memegangi tangan Peeta dengan sangat kuat. Dia mencium keningku dengan air mata yang hanyut ke pipinya. "Mrs. Mellark! Saya minta dorongan dari anda sekarang juga!" kata dokter didepanku. Ibuku dan Prim berada disamping tempat tidurku, bermohon semoga aku dan bayiku selamat. Bahkan semua keluargaku diruangan ini, merembeskan air mata. Aku ingin menangis tapi itu akan membuat mereka semakin sedih melihat diriku kesakitan. Tapi ibuku tahu, bahwa inilah rasanya melahirkan aku dan Prim.
Aku mendorong dengan sekuat tenaga sambil berteriak-teriak. Keringat makin mengucur ke seluruh tubuhku. "Dorongan terakhir Mrs. Mellark!" kata suster didepanku. Aku mengambil nafas dalam-dalam dan dengan sekuat tenaga mendorong dengan lebih kuat. Peeta langsung mendekati suster yang berada tepat didepanku. "Oh my gosh!" kata Peeta sambil menangis bahagia dan senyum pun muncul dari bibirnya serta kerut-kerut tegang dan ketakutan dari wajahnya pun hilang dengan kebahagiaan.
Aku merasakan nyeri yang hebat dan suara tangisan bayi. Bayiku dan bayi Peeta. Bayi kami. Bayi yang ditunggu-tunggu Peeta sejak lama. Bayi yang aku perjuangkan. Peeta langsung menggendong bayi kami yang masih berdarah-darah. Prim dan ibuku saling berpelukan dan mengeluarkan perasaan lega yang dialiri kebahagiaan.
"Perempuan." kata Peeta dengan senyumannya yang tak hilang-hilang. "Aku telah menjadi tante!" teriak Prim kegirangan. Aku pun tersenyum lega. Aku pun dapat merasakan perasaan lega dan bahagia dari Peeta. Peeta sangat senang dekat dengan anak-anak. Sikapnya yang lembut dan penuh kasih sayang selalu menjadi ciri khasnya. Anak-anak juga menyukainya. Dia akan menjadi ayah yang hebat nantinya. Aku bisa lihat itu.
Sedangkan aku dengan tangisan bahagia makin memikirkan apakah aku dapat menjadi ibu yang hebat bagi anakku. Ini pengalaman pertamaku menjadi ibu. Ibu. Aku telah menjadi ibu. Aku mengeluarkan senyum lebarku.
"Kita beri nama apa sayang?" kata Peeta mengembalikan pikiranku yang berkelana. Peeta langsung meletakan bayi kami di kedua lenganku. Dengan refleks aku langsung menggendongnya bak aku seorang ibu sejak lama. Aku menggendong bayi kami dengan hati-hati dan seperti cara ibuku menggendong Prim saat masih bayi. "Rue?" kataku dengan airmata yang hebat turun deras melewati pipiku. Wajahnya sangat amat cantik. "Dia cantik sekali Peeta." kataku sambil mengelus kulit wajah bayi kami. "Aku suka Lavender." kata Peeta dan matanya yang biru terpaku pada mata anak kami yang warnanya persis seperti milik ayahnya. "Lavender Rue Mellark." kataku dengan bangga.
Bersambung....
*COPY PASTE? PASTIKAN KALIAN SEMUA MENGKREDIT DAN MENULISKAN PENCIPTANYA.*