Friday, March 30, 2012

Breath Taking, Chapter 2 (A Fan Fiction Of The Hunger Games; Mocking Jay) Written by Stella M.N (@INDHungerGames)

Lavender Rue Mellark. Aku sangat suka dengan nama itu. Nama yang terkesan indah dan damai. Seperti bunga-bunga Lavender yang tumbuh di musim semi yang mengindahkan rerumputan yang hijau dengan warna-warna ungu yang indah. Lavender akan selalu mewarnai hidupku. Hidup Peeta juga.

Aku menamainya Rue karena Rue, temanku dari distrik 11, temanku yang dibunuh Marvel dengan tombaknya akibat Capitol itu memberikan aku kehidupan saat aku merasa terpuruk saat di arena dan detik-detik saat aku kehilangannya. Lavender akan selalu menjadi hidupku. "Nama yang indah." kata ibuku dengan senyuman. Senyuman yang tak lagi tampak setelah aku sampai ke distrik 12 dari Capitol saat games pertama kami. Senyuman yang memberikan aku keyakinan bahwa hidup itu indah.

Suster pun mengambil bayiku untuk dibersihkan. Aku sampai lupa bahwa ada Haymitch dan Effie disini. Make up tebal Effie pun dirusak oleh air matanya sendiri dan Haymitch... tetaplah Haymitch yang dulu. Haymitch yang tak bisa hidup tanpa alkohol. "Selamat yah kalian!" kata Effie dan Haymitch sambil memeluk Peeta lalu memelukku. Lavender telah dibungkus kain yang bewarna ungu yang sesuai dengan namanya dan susterpun memberikan Lavender kepadaku. "Baby Lavender! Disini tante Effie dan om Haymitch! Senang bertemu denganmu! Oh tapi kami harus segera pergi! Sampai jumpa lagi Lavender dan selamat untuk Katniss dan Peeta!" katanya sambil melambaikan tangannya kepadaku dan Peeta sebagai tanda perpisahan. Effie langsung menarik Haymitch. Kebiasaanya yang tepat waktu dan tidak telat selalu menjadi ciri khas Effie sejak dulu. Haymitch tersenyum namun terlihat kesal karena Effie yang selalu cepat-cepat.

Peeta ingin menggendong Lavender, lalu aku pun memberikan Lavender kepadanya. Air mataku tetap keluar karena kebahagiaan yang memenuhi ruangan ini. "Hei Lavender! Ini suara ayahmu." kata Peeta dengan suaranya yang gembira namun lembut kepada Lavender. "Kau sangat mirip dengan ibumu. Wah hebat! Ayah dapat melihat wajah ayah dan ibumu di wajah kecilmu. Tercetak pas di wajahmu. Lihat rambutmu! Seperti warna ibumu. Membumi. Ayah tidak menyangka kita memiliki warna mata yang sama Lavender!" kata Peeta dengan wajahnya yang berseri-seri.

Setelah kami membereskan surat-surat sertifikat kelahiran dan rumah sakit, kami diperbolehkan pulang setelah 2 hari dirumah sakit. Lavender adalah berkah yang mendalam bagi keluarga kecil kami yang sempurna. Peeta dan Lavender adalah hidupku. Milikku sepenuhnya.

Bersambung......

*COPY PASTE? PASTIKAN KALIAN SEMUA MENGKREDIT DAN MENULISKAN PENCIPTANYA!*

No comments:

Post a Comment