Sunday, April 1, 2012

Breath Taking, Chapter 3 (A Fan Fiction Of The Hunger Games; Mocking Jay) Written by Stella M.N (@INDHungerGames)

Keesokan harinya aku kembali lagi ke tempatku di distrik 13. Aku dan Peeta diberikan tempat baru untuk kami berdua karena kami sudah memiliki anak. Prim dan Ibuku pasti tidak terlalu suka bila mendengar suara tangisan bayi malam-malam. 

Aku dan Peeta langsung merebahkan diri ke tempat tidur setelah membaringkan Lavender ke ranjang bayi yang terbuat dari Mahogany dan dimodif dengan bunga-bunga Lavender. Hadiah pertama Lavender dari Effie. Untungnya, Lavender sudah lama tertidur semenjak digendong Peeta.

Aku akhirnya memudarkan keheningan kami yang lama. "Peeta. Jadi bagaimana? Yakinkah kita harus memberitahu Lavender kelak tentang Hunger Games?" kataku dengan suara datar namun tegas dan wajah seperti tertekan. "Tidak perlu. Aku rasa. Kita sudah bersih dari pikiran ahat Capitol. Aku rasa kita tidak mau anak kita memiliki mimpi buruk melihat ayah dan ibunya di arena yang mengerikan dan menghilangkan nyawa orang lain." kata Peeta sambil menatap mataku. Wajahku dan wajahnya hanya tinggal 5cm. Aku dapat melihat matanya yang sangat amat indah dari radius 5cm. Ini merupakan salah satu momen romantis kami. Bisa dibilang momen ini ada pada urutan ke 2. Tapi bagi Peeta ini yang ke 3 karena yang paling pertama adalah saat kami menikah dan ke 2 pada saat di gua pada Hunger Games pertama kami. Sudah kukatakan kepadanya sejak saat kami kembali ke distrik 12 bahwa itu adalah bohongan, tapi bagaimanapun juga Peeta tetap merasakan bahwa aku sungguh-sungguh mencintainya. Tapi itu memang, sekarang. 

Aku sangat setuju dengan pendapat Peeta. Peeta benar. Lavender tidak boleh mengetahui hal ini. Tidak boleh dan aku tidak akan memperbolehkan siapa pun untuk bercerita tentang Hunger Games kepada Lavender. "Janji yah kita tidak akan membicarakan hal ini didepan Lavender?" tanyaku kepadanya sekali lagi untuk meyakinkanku. "Janji." katanya yang bernada sama saat dia menjawab "Selalu." Oh Peeta aku sangat bersyukur memilikimu! Rasanya aku ingin berteriak begitu kepadanya, tapi dia sudah terlalu lelah. "Aku mencintaimu Peeta. Selamanya." dan akhirnya kata-kata itulah yang keluar dari mulutku. "Aku lebih mencintaimu." katanya sambil mengakhiri percakapan kami dan mata birunya sudah tertutup. Peeta tersenyum dalam tidurnya. Peeta langsung tertidur sedangkan aku masih berusaha. Dengan keluarga kecil kami ini, aku merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang lebih dari aku rasakan saat memanah dan berada di hutan. Selain Peeta dan Lavender yang membuatku bahagia adalah bahwa Capitol sudah tidak bisa menganggu kehidupan kami sekarang. 

Bersambung.........

*COPY PASTE? PASTIKAN KALIAN MENGKREDIT DAN MENULISKAN PENCIPTANYA!*

No comments:

Post a Comment