Sunday, April 1, 2012

Breath Taking, Chapter 4 (A Fan Fiction Of The Hunger Games; Mocking Jay) Written by Stella M.N (@INDHungerGames)

Setelah 14 tahun lamanya, Lavender menjadi gadis yang periang, lembut dan penuh kasih sayang yang merupakan sifat dari ayahnya serta berani, kuat dan berapi-api seperti ibunya. Kelembutan Peeta dan api yang membara pada diriku terbentuk menjadi satu dalam diri Lavender dan membuat banyak orang menyukainya. 

Aku memberitahu Finnick, Effie, Haymitch dan yang lainnya untuk memberitahu Panem, agar tidak lagi membicarakan Hunger Games. Mereka pun langsung menyetujuinya. Panem terasa nyaman terbebas dari Capitol yang busuk itu. Dengan hal ini juga, aku dapat semakin bisa menjauhkan kenangan-kenangan burukku selama permainan dan pemberontakan. Sudah 14 tahun! Tapi masih ada saja, satu hal kecil yang membuatku tak pernah dapat melupakannya. Aku masih Mocking Jay. Karena itu mereka semua menyetujui niatku. Aku dan Peeta pun tetap melaksanakan janji kami. Merahasiakan Hunger Games dari Lavender. 

Karena aku memikirkan ini, aku jadi merindukan Gale. Gale sahabat lamaku. Kabarnya Gale sekarang berada di suatu tempat di distrik 2. Aku berharap dia sudah memiliki keluarga sekarang. Oh ya! Satu lagi! Aku masih ingat dengan Gale mengajakku kabur kehutan dan hidup bersama. Menggelikan pada akhirnya karena aku percaya pada diriku bahwa hatiku hanya untuk Peeta. Hatiku hanya dapat dilelehkan oleh bunga Dandelionnya Peeta, dan bukan apinya Gale.

Kembali mengenai Lavender. Ternyata bakatku dan bakat Peeta menurun kepadanya! Dengan pandangan pertama melihat busur dan panahku pada umur 5 tahun, dia sudah memintaku untuk mengajarinya belajar memanah. Haymitch membelikan busur dan panah bewarna Silver yang ukurannya pas dengan Lavender pada umur 5 tahun. Aku sendiri bingung bagimana Haymitch mendapatkannya. Dia bikin sendiri? Tidak mungkin. Dia sudah terlalu cinta mati pada botol-botol minuman kerasnya dan tidak mungkin menghabiskan waktunya bersama alkohol-alkoholnya yang tercinta untuk membuat busur dan panah.

Aku pernah mengajaknya kehutan untuk berburu. Aku berhasil membunuh kelinci dan dia langsung merengek untuk diajarkan, lalu selama perjalanan pulang dia tidak pernah berhenti mengagumi ibunya dan langsung berteriak-teriak kepada orang-orang betapa hebatnya aku. Dia sangat menggemaskan. Rambut coklatnya yang bergelombang selalu membuatku ingin memeluknya dan wajahnya yang sangat cantik dan mempesona. Dia terlihat seperti Prim pada waktu kecil. 

Tak hanya jago memanah, Lavender juga jago melukis. Bakatku dan Peeta tertanam pada dirinya! Pada umur 7 tahun, dia sudah dapat memanah tupai dan menghasilkan lukisan yang sangat indah.

Bersambung.......

*COPY PASTE? PASTIKAN KALIAN SEMUA MENGKREDIT DAN MENULISKAN PENCIPTANYA!*

No comments:

Post a Comment