Tamparanku pada Gale cukup keras sehingga membuatnya berteriak kesakitan. Api didalam diriku semakin meluap-luap. Aku tidak kuat untuk menahan marah. Aku langsung menarik bajunya dengan sangat kuat dan cepat sehingga Gale dari posisi duduk menjadi berdiri tepat disebelahku. Lavender menangis melihat ibunya menjadi liar seperti ini. Lavender langsung memeluk Peeta dan berdiri dibelakangnya.
"GALE!!!!! TEGA-TEGANYA KAU GALE!!! KAU TIDAK PUNYA OTAK YAH?!" kataku sambil berteriak dengan tatapan marah serta tajam terpusat pada matanya. Gale kaget dan ketakutan, jantungnya berdetak sangat keras. Ini mungkin pertama kalinya Gale melihatku seperti ini. "HUNGER GAMES SUDAH LENYAP! JANGAN DIBAWA-BAWA KE KEHIDUPAN KAMI YANG BARU! DASAR TOLOL!" Aku tidak peduli apabila Gale menjadi tersinggung atau bagaimana. Intinya aku sangat marah terhadap Gale. Aku seperti ingin memanah tepat ke arah jantungnya. "Aku...aku tidak tahu Katniss." kata Gale sambil menunduk menatapi sepatunya. "LIHAT AKU GALE! KENAPA KAU MEMBIARKANNYA MENONTON TAYANGAN INI?!" Amarahku semakin menjadi-jadi. Napas ku tidak beraturan dan jantungku juga berdetak sangat amat kencang. The girl on fire sekarang memang sedang berada di dalam api. Aku menampar Gale sekali lagi. Aku menjadi merasa bersalah terhadap dirinya. Tapi aku tidak peduli! Pengorbanan dan usaha seluruh warga distrik 13 selama 14 tahun dihancurkan oleh Gale yang baru saja 10 menit sampai ke distrik 13. "Maafkan aku Katniss. Aku tidak tahu Katniss. Di distrik 2 mereka masih membicarakan Hunger Games." kata Peeta sambil mendesah. "Aku tidak peduli! Bila kau punya anak, yakinkah kau membiarkan anakmu menonton tayangan ini hah Gale?!" kataku sambil makin berteriak. Lavender menutup telinganya dengan kedua tangan. Peeta tercengang hebat. Peeta pasti mengira bahwa aku telah menjadi Mutt. Aku yakin dia berpikir seperti itu. Peeta kan pernah dibajak oleh Capitol busuk itu. "Katniss maafkan aku." kata Gale sambil memohon. Aku belum bisa memaafkannya. Amarahku yang meledak-ledak tidak dapat aku redam. "Gale. Lebih baik kau keluar." kata Peeta dengan suara datar. Aku langsung menatap Peeta dengan tajam. Aku bingung dengan dirinya. Bisa-bisanya dia masih membela Gale yang jelas-jelas sudah merusak isi pikiran Lavender. "LEBIH BAIK KAU KELUAR!" kataku dengan teriakan yang semakin menjadi-jadi. Aku rasa seluruh isi distrik 13 dapat mendengar teriakanku.
Gale langsung pergi tanpa berkata-kata lagi. Dia bahkan tidak menatapku lagi dan langsung berjalan keluar. Aku menarik napas dalam - dalam. Berpikir dari mana aku harus bercerita kepada Lavender. Tapi aku rasa Lavender pasti sudah mengerti. "Jadi............ Mom dan Dad adalah pemenang Hunger Games ke 74?" kata Lavender dengan nada ngeri. Aku langsung duduk dan menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku hanya diam. Aku tidak kuat menjawab. "Ya Lavender." kata Peeta dengan hati-hati. "Aku dapat merasakan ketakutan Mom dan Dad di arena." Lavender mengagetkanku dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku langsung menoleh kepada Lavender. "Di arena hanya ada 2 hal. Hidup atau mati." kataku. "Maafkan aku Mom and Dad." kata Lavender mendesah dan dengan nada sedih. "Tidak usah minta maaf Lavender. Kau tidak salah kok." kata Peeta dengan tersenyum. "Lebih baik kau tidur sayang. Sudah gelap." kataku pada Lavender. Lavender langsung naik ke tempat tidur. "Peeta. Cepat ganti baju. Kau kedinginan." kataku yang langsung melemparkan handuk kepadanya. Peeta langsung mengangguk.
Aku masih berdiam diri di tempat duduk. Tidak dapat memikirkan apa yang telah terjadi. Rasa dendamku lebih dalam daripada rasa untuk memaafkan Gale. Aku masih marah terhadapnya. Aku menutup mataku dan menyenderkan kebahu Peeta yang langsung duduk disebelahku. Aku membiarkan pikiranku berkelana.
"JANGAN BUNUH AKU!!!!!!!! JANGAN!!!!! MOM DAD!!!!!" teriakan Lavender membuatku membuka mata dalam sekejap. Aku dan Peeta langsung bangun dan memeluknya. Mata Lavender terbuka dengan sangat lebar dan sambil melotot. Napasnya pendek-pendek. Wajahnya berkeringat. Dia habis mimpi buruk. Ini semua salah Gale. Gale yang menyebabkan ini semua. "Sssshh shhh sudah Lavender. Ada Mom dan Dad disini. Lebih baik kau tidur saja. Ini masih tengah malam." kata Peeta. Lavender mengangguk tapi aku dapat melihat tatapannya yang ketakutan. Sekarang Lavender menjadi takut setiap kali tidur. Seperti halnya aku dan Peeta pada tahun-tahun pertama kami setelah Hunger Games. Sulit sekali untuk memimpikan hal-hal yang indah, dimana peristiwa mengerikan itu sudah terekam diotakku.
Bersambung......
*COPY PASTE? PASTIKAN KALIAN MENGKREDIT DAN MENULISKAN PENCIPTANYA!*
No comments:
Post a Comment